Pandangan Islam terhadap Perkembangan
Teknologi Komunikasi dan Teknologi Informasi
A. Pengertian
1. Pengertian
Teknologi
Kata teknologi berasal dari bahasa latin ’’texere’’ yang berarti
menyusun atau membangun. Sehingga istilah teknologi seharusnya tidak terbatas
pada penggunaan mesin, meskipun dalam arti sempit hal tersebut sering digunakan
dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Iskandar Alisyahbana (1980) Teknologi
telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu karena dorongan untuk hidup
yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban
sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi” belum digunakan.
Istilah “teknologi” berasal dari “techne” atau cara dan “logos” atau
pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang
cara. Pengertian teknologi sendiri menurutnya adalah cara melakukan sesuatu
untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat, sehingga
seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh,
pancaindra dan otak manusia
Mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dan digali
dalam Alquran, sebab kitab suci ini banyak mengupas keterangan-keterangan
mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh adalah firman Allah SWT
dalam surat Al-Anbiya ayat 80 yg artinya “Telah kami ajarkan kepada Daud
membuat baju besi utk kamu guna memelihara diri dalam peperanganmu.” Dari keterangan itu jelas sekali bahwa manusia
dituntut untuk berbuat sesuatu dengan sarana teknologi.
Kemajuan teknologi secara umum telah banyak dinikmati oleh
masyarakat luas dengan cara yang belum pernah dirasakan bahkan oleh para raja
dahulu kala. Makanan lebih nikmat dan beraneka ragam, pakaian terbuat dari
bahan yg jauh lebih baik dan halus, sarana-sarana transportasi dan komunikasi
yang kecepatannya amat mengagumkan, gedung dan rumah tempat tinggal dibangun
dengan megah dan mewah. Tampaknya manusia di masa depan akan mencapai taraf
kemakmuran yang lebih tinggi dan memperoleh kemudahan-kemudahan yang lebh
banyak lagi.
Benar bahwa agama Islam tidak menghambat kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, juga tidak
anti terhadap barang-barang produk teknologi baik di zaman lampau di masa
sekarang, maupun di waktu-waktu yang kan
datang. Demikian pula dengan ajaran
Islam, yang tidak akan bertentangan dengan teori-teori pemikiran modern yang
teratur dan lurus, serta analisa-analisa yang teliti dan obyekitf. Dalam
pandangan Islam menurut hukum asalnya segala sesuatu itu adalah mubah termasuk
segala apa yg disajikan oleh berbagai peradaban baik yang lama ataupun yang
baru. Semua itu sebagaimana diajarkan oleh Islam tidak ada yang hukumnya haram,
kecuali jika terdapat nash atau dalil yang tegas dan pasti mengherakannya.
Bukankah Alquran sendiri telah menegaskan bahwa agama Islam bukanlah agama yang
sempit. Allah SWT telah berfirman yang artinya “Di sekali-kali tidak menjadikan
kamu dalam agama suatu kesempitan.”
Adapun peradaban modern yag begitu luas memasyarakatkan
produk-produk teknologi canggih, seperti televisi, video player, alat-alat
komunikasi, dan barang-barang mewah (gadget) lainnya, serta yang menawarkan
aneka jenis hiburan bagi tiap orang tua, muda atau anak-anak yang tentunya
alat-alat itu tidak bertanggung jawab atas apa yg diakibatkannya. Tetapi di
atas pundak manusianyalah terletak semua tanggung jawab itu. Sebab adanya
berbagai media informasi dan alat-alat canggih yang dimiliki dunia saat ini,
dapat berbuat apa saja. Kiranya faktor manusianya-lah yg menentukan
opersionalnya. Adakalanya menjadi manfaat, yaitu manakala manusia menggunakan
dengan baik dan tepat. Tetapi dapat pula mendatangkan dosa dan malapetaka,
manakala manusia menggunakannya untuk mengumbar hawa nafsu dan kesenangan
semata. Namun seiring dengan adanya upaya meningkatkan ilmu pengetahuan dan
teknologi, manusia (umat islam) pun harus lebih jeli menentukan pilihan ini.
Untuk apakah semua kemajuan itu?
2. Cara Pandang
Barat terhadap Teknologi
Menurut catatan sejarah, bangsa Barat berhasil mengambil
khazanah ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan lebih dahulu oleh kaum
muslimin. Kemudian mereka mengembangkannya di atas paham materialisme tanpa
mengindahkan lagi nilai-nilai Islam sehingga terjadilah perubahan total sampai
akhirnya terlepas dari sendi-sendi kebenaran. Para ilmuwan Barat dari abad ke
abad kian mendewa-dewakan rasionalitas bahkan telah menuhankan ilmu dan
teknologi sebagai kekuatan hidupnya. Mereka menyangka bahwa dengan iptek mereka
pasti bisa mencapai apa saja yang ada di bumi ini dan merasa dirinya kuasa pula
menundukkan langit bahkan mengira akan dapat menundukkan segala yang ada di
bumi dan langit. Tokoh-tokoh mereka merasa mempunyai hak untuk memaksakan ilmu
pengetahuan dan teknologinya itu kepada semua yang ada di bumi agar mereka bisa
mendikte dan memberi keputusan terhadap segala permasalahan di dunia.
Sebenarnya masyarakat Barat itu patut dikasihani karena akibat kesombongannya
itu mereka lupa bahwa manusia betapapun tingg kepandaiannya hanya bisa mengetahui
kulit luar atau hal-hal yang lahiriah saja dari kehidupan semesta alam. Mereka
lupa bahwasanya manusia hanya diberi ilmu pengetahuan yang sedikit dari
kemahaluasan ilmu Allah. Di atas orang pintar ada lagi yang lebih pintar. Dan
sungguh Allah SWT benci kepada orang yang hanya tahu tentang dunia tetapi bodoh
tentang kebenaran yang ada di dalamnya.
3. Pandangan Islam
terhadap perkembangan Teknologi Komunikasi dan Teknologi Informasi.
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh
peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di berbagai
penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan
oleh perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi modern tersebut
membuat banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat,
tanpa diiringi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis
multidimensional yang diakibatkannya. (Ahmad Y. Samantho.2004).
Peradaban Barat modern saat ini memang memperlihatkan kemajuan dan
kebaikan kesejahteraan material yang seolah menjanjikan kebahagian hidup bagi
umat manusia.
Negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, saat ini pada umumnya
adalah negara-negara berkembang atau negara terkebelakang, yang lemah secara
ekonomi dan juga lemah atau tidak menguasai perkembangan ilmu pengetahuan dan
sains-teknologi. Karena nyatanya saudara-saudara Muslim kita itu banyak yang
masih bodoh dan lemah, maka mereka kehilangan harga diri dan kepercayaan
dirinya. Beberapa di antara mereka kemudian menjadi hamba budaya dan pengikut
buta kepentingan negara-negara Barat. Mereka menyerap begitu saja nilai-nilai,
ideologi dan budaya materialis (’matre’) dan sekular (anti Tuhan) yang dicekokkan
melalui kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi Barat. Akibatnya
krisis-krisis sosial-moral dan kejiwaan pun menular kepada sebagian besar
bangsa-bangsa Muslim.
Kenyataan memprihatikan ini sangat ironis. Umat Islam yang mewarisi
ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan Iptek Islam yang jaya di masa lalu,
justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya
alamnya, namun miskin kualitas sumberdaya manusianya (pendidikan dan Ipteknya).
Ketidakadilan global ini terlihat dari fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya
dikuasai oleh 20 % penduduk kaya di negara-negara maju. Sementara 80% penduduk
dunia di negara-negara miskin hanya memperebutkan remah-remah sisa makanan
pesta pora bangsa-bangsa negara maju.
Ironis bahwa Indonesia yang sangat
kaya dengan sumber daya alam minyak dan gas bumi, justru mengalami krisis dan
kelangkaan BBM. Ironis bahwa di tengah keberlimpahan hasil produksi gunung
emas-perak dan tembaga serta kayu hasil hutan yang ada di Indonesia, kita
justru mengalami kesulitan dan krisis ekonomi, kelaparan, busung lapar, dan
berbagai penyakit akibat kemiskinan rakyat. Kemana harta kekayaan kita yang
Allah berikan kepada tanah air dan bangsa Indonesia ini? Mengapa kita menjadi
negara penghutang terbesar dan terkorup di dunia? Kenyataan menyedihkan
tersebut sudah selayaknya menjadi cambuk bagi kita bangsa Indonesia yang
mayoritas Muslim untuk gigih memperjuangkan kemandirian politik, ekonomi dan
moral bangsa dan umat. Kemandirian itu tidak bisa lain kecuali dengan pembinaan
mental-karakter dan moral (akhlak) bangsa-bangsa Islam sekaligus menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dilandasi keimanan-taqwa kepada Allah swt. Serta
melawan pengaruh buruk budaya sampah dari Barat yang Sekular, Matre dan hedonis
(mempertuhankan kenikmatan hawa nafsu).
Dampak sosial dari kemajuan teknologi komunikasi tentu memiliki dampak
yang positif yang bisa digunakan atau dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan.
menurut Marwah Daud Ibrahim memandang potensi perubahan sosial yang mendasar
yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan
komunikasi. Pertama, dengan kemajuan teknologi komunikasi kemungkinan orang
bisa terbuka dan menerima perubahan yang baik. Kedua, dengan kemajuan teknologi
komunikasi diharapkan menumbuhkan semangat ukuwah Islamiyah dan solidaritas
sosial semakin meningkat. Ketiga, dengan kemajuan teknologi komunikasi
diharapkan setiap individu memiliki SDM yang berkualitas.
Dampak globalisasi sebagai akibat dari kemajuan bidang informasi
sebagaimana tersebut diatas terhadap dunia pendidikan. Berbagai ilmu
pengetahuan dan teknologi, seperti perkembangan teknologi komunikasi dan unsur
budaya lainnya aka mudah dipengaruhi oleh masyarakat. Ketika berhadapan dengan
ide-ide modernisasi dan polarisasi ideologi dunia, terutama didorong oleh
kemajuan teknologi modern, pendidikan Islam tidak terlepas dari tantangan yang
menuntut jawaban segera. Secara garis besar tantangan–tantangan tesebut meliputi
hal-hal sebagai berikut:
· Terdapatnya
kecendrungan perubahan sistem nilai untuk meninggalkan sistem nilai yang telah
ada (agama). Standar kehidupan dilaksanakan oleh kekuatan ynag berpijak pada
materialisme dan sekulerisme.
· Adanya dimensi
besar dari kehidupan masyarakat modern yang berupa pemusatan pengetahuan
teoritis.
Bertolak dari kenyataan tersebut dalam konteks perubahan
sosial ini pendidikan Islam mempunyai misi ganda yaitu:
1. Mempersiapkan
manusia muslim untuk menghadapi perubahan yang sedang dan akan terjadi,
mengendalikan dan memanfaatkan perubahan tersebut, mepersiapakan kerangka
fikiran yang komprehensif dan dinamis bagi terselenggaranya proses perubahan
yang berada diatas nilai-nilai Islam.
2. Memberikan
solusi terhadap akses negatif kehidupan modern yang berupa depersonalisas,
frustasi, dan keterasingan umat dari dunia modern.
Kedua misi diatas mengisyaratkan tugas berat yang harus
dihadapi pendidikan Islam dalam rangka menuju perubahan umat Islam yang lebih
baik, dan diperlukan kerangka pandang yang komprehensif dan relevan dalam dalam
mengantisipasi tiap perubahan sosial sebagai kemajuam teknologi komunikasi dan
teknologi informasi.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Manusia adalah makhluk yang unik. Ia tahu bahwa ia tahu dan
ia tahu bahwa ia tidak tahu. Ia mengenal dunia sekelilingnya dan lebih dari itu
ia mengenal dirinya sendiri. Manusia memiliki akal budi, rasa, karsa, dan daya
cipta yang digunakan untuk memahami eksistensinya, dari mana sesungguhnya ia
berasal, dimana berada dan akan kemana perginya. Pertanyaan-pertanyaan selalu
muncul, akan tetapi pertanyaan itu belum pernah berhasil dijawab secara tuntas.
Manusia tetap saja diliputi ketidaktahuan. Demikianlah sesungguhnya manusia,
siapa saja, eksis dalam suasana yang diliputi dengan pertanyaan–pertanyaan.
Manusia eksis di dalam dan pada dunia filsafat dan filsafat hidup subur di
dalam aktualisasi manusia.
Berdasarkan rasa, karsa dan daya cipta yang dimilikinya
manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) termasuk
didalamnya adalah teknologi komunikasi dan teknologi informasi. Namun,
perkembangan teknologi yang luar biasa menyebabkan manusia “lupa diri”. Manusia
menjadi individual, dan egoistik, baik terhadap diri sendiri, sesamanya,
masyarakatnya, alam lingkungannya, bahkan terhadap Tuhan Sang Penciptanya
sendiri. Karena itulah filsafat ilmu pengetahuan dihadirkan ditengah-tengah
keaneka ragaman IPTEK untuk meluruskan jalan dan menepatkan fungsinya bagi
hidup dan kehidupan manusia di dunia ini.
Kemajuan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan
kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi
kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Allah telah mengaruniakan
anugerah kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu
anugerah agama dan kenikmatan teknologi.
Agama dan Ilmu pengetahuan-teknologi merupakan dua sisi yang
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu
memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun
teknologi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam
hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang
lebih maju lagi. Namun, terlepas dari semua itu, perkembangan teknologi tidak
boleh melepaskan diri dari nilai-nilai agama Islam. Albert Einstin yang
menyatakan: “Agama tanpa ilmu akan pincang, sedangkan ilmu tanpa agama akan
Buta”.
B. Saran
Untuk menghindari efek atau dampak dari perkembangan
teknologi komunikasi dan teknologi informasi, sebagai umat Islam yang bijak dan
taat pada aturan ajaran agamanya, hendaknya berawal dari diri sendiri dalam
menyikapi terpaan perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi.
Pergunakanlah manfaat yang postifnya apabila dampak dari perkembangan teknologi
komunikasi dan teknologi informasi itu bisa bermanfaat dalam kehidupan umat
Islam. Dan Jauhilah atau buanglah manfaat negatifnya apabila dampak dari
perkembangan teknologi komunikasi dan teknologi informasi itu cenderung
bersifat menjerumuskan kedalam kebathilan. Dikarenakan agama Islam tidak
menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga tidak anti terhadap barang-barang produk
teknologi baik di zaman lampau di masa sekarang, maupun di waktu-waktu yangg akan datang.


No comments:
Post a Comment